Senin, 11 Januari 2016

Review Jurnal Pengaruh Kompensasi dan Iklim dalam Organisasi terhadap Kepuasan Kerja

Kelompok 8 (Alpukat)

Disusun oleh :
Andrew Wiratama
Mikha Meyanti B.
Riyan Anugerah
Ulfah Indah K.
Wira Utami H.
kelas : 3PA06


Pengaruh Kompensasi dan Iklim Organisasi terhadap Kepuasan Kerja
Elviera Sari
British International School


Pendahuluan

Sejalan dengan keterbukaan perekonomian dan era globalisasi di dunia   mendorong pemerintah Indonesia untuk membuka kesempatan investasi seluas- luasnya bagi para investor dan pemilik perusahaan asing, dan secara tidak  langsung mendorong datangnya orang asing ke Indonesia. Sebagian orang tua di Indonesia beranggapan bahwa sistem pendidikan yang terdapat di Indonesia  saat ini masih terlambat dalam mengikuti perkembangan dunia sehingga mereka  mengirimkan anaknya sekolah di luar negeri agar dapat mengikuti kurikulum internasional.

Untuk mengantisipasi pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan bagi Warga Negara Indonesia agar dapat mengikuti pendidikan internasional diIndonesia. Sekolah internasional yang telah memiliki sumber daya manusia yang berkualitas dan profesional menginginkan karyawannya dapat tetap berada dalam organisasi sekolah selama mungkin. Untuk itu sekolah internasional menerapkan beberapa cara yang bertujuan untuk mempertahankan karyawannya dengan memberi kompensasi yang menarik, menciptakan suasana kerja yang menyenangkan dan kondusif, fasilitas lain yang dapat dinikmati karyawan selain kompensasi tetap, dan memberikan rangsangan kepada karyawan agar dapat meningkatnya kinerjanya.

 Untuk itu perlu diketahui faktor apa saja yang menjadi faktor penentu kepuasan kerja karyawan dan pengaruh kompensasi dan iklim organisasi terhadap kepuasan kerja karyawan. Kepuasan kerja merupakan salah satu sikap karyawan yang perlu diciptakan di lingkungan kerja agar karyawan dapat bekerja dengan penuh rasa tanggung jawab sehingga menghasilkan kerja yang optimal, secara spesifik pengaruhnya terhadap kerja yang kreatif (Amabile, 1998; Soeling, 2005). Kepuasan kerja (job satisfaction) merupakan sasaran penting dalam manajemen sumber daya manusia karena akan mempengaruhi kinerja dan produktivitas kerja. Kepuasan kerja dapat dilihat dari bagaimana pegawai bereaksi terhadap perubahan karakteristik pekerjaannya. Job Description Index (JDI) dapat digunakan untuk mengukur kepuasan kerja dari lima hal yaitu pekerjaan itu sendiri, supervisor langsung diatasnya, gaji, rekan kerja dan peluang untuk promosi (Downey, 1975).

Luthan (1981) menyatakan bahwa kepuasan kerja adalah tergantung kepada bagaimana persepsi individu seseorang dalam melaksanakan tugasnya di tempat kerja sehingga bersifat subjektif bagi individu yang merasakannya. Pegawai akan merasa puas dalam bekerja apabila aspek pekerjaan dan individunya saling menunjang sehingga dapat dikatakan bahwa kepuasan kerja berkenaan dengan perasaan seseorang tentang menyenangkan atau tidaknya pekerjaan karyawan. Dalam hasil Annual Job Satisfaction Survey terhadap para staf perusahan di Amerika Serikat menunjukkan bahwa level tertinggi dari ketidakpuasan karyawan berkisar seputar gaji, bonus, dan hubungan antara pembayaran karyawan karyawan dan hasil kerjanya (Weldon,1999).

Kompensasi adalah salah satu bentuk penghargaan suatu organisasi terhadap sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya. Manajemen kompensasi adalah salah satu fungsi penting dalam manajemen sumber daya manusia. Sistem kompensasi yang sesuai dan tepat dipercaya akan dapat meningkatkan motivasi, komitmen, dan kontribusi sumberdaya manusia dalam organisasi. Pandangan ini sesuai dengan pendapat Lockyer yang dikutip oleh Irianto (2001) yang menyatakan, “Sistem kompensasi merupakan bagian internal dalam hubungan industrial dan mempengaruhi efektivitas hubungan antara organisasi dan pekerja”.

Iklim (climate) selalu dilihat sebagai descriptive concept yang tertuju pada fakta tentang lingkungan. Iklim organisasi adalah suatu sistem sosial yang selalu dipengaruhi oleh lingkungan baik internal maupun eksternal. Iklim organisasi merupakan suasana kerja yang dialami oleh karyawan, misalnya lewat ruang kerja yang menyenangkan, rasa aman dalam bekerja, penerangan yang memadai, sarana dan prasana yang memadai jaminan sosial yang memadai, promosi jabatan, kedudukan dan pengawasan yang memadai.



Hasil

 A. Kompensasi
Dari jawaban responden yang telah diolah dengan bantuan SPSS ditemukan bahwa terdapat beberapa faktor penentu variabel kompensasi. Faktor penentu tersebut ditetapkan berdasarkan nilai persentase dari frequency atau hasil setiap jawaban responden yang nilainya melebihi 50%.
Hasil penentuan urutan faktor dari variabel kompensasi yang paling mempengaruhi kepuasan kerja adalah komponen tunjangan yang berbeda dari gaji bulanan. Kompensasi memiliki dampak signifikan bagi suatu organisasi untuk menarik dan mempertahankan karyawannya sesuai dengan teori Bergmann (2002).

 B. Iklim Organisasi
Berdasarkan analisis data penelitian dapat ditentukan faktor penentu variabel iklim organisasi berdasarkan nilai persentase dari frequency atau hasil setiap jawaban responden yang nilainya melebihi 50%.
Hasil penentuan urutan faktor dari variabel iklim organisasi yang paling mempengaruhi kepuasan kerja membuktikan bahwa kepuasan kerja diperoleh dari sistem sosial yang dipengaruhi lingkungan internal dan eksternal dengan bervariasinya iklim organisasi yang diciptakan British International School.

 C. Kepuasan Kerja
Faktor penentu variabel kepuasan kerja ditentukan berdasarkan nilai persentase dari frequency atau hasil setiap jawaban responden yang nilainya melebihi 50%
Hasil penentuan urutan faktor dari variabel kepuasan kerja di atas membuktikan bahwa kebebasan karyawan untuk mengembangkan keterampilan dengan kesempatan yang diberikan untuk mengambil keputusan sendiri dalam pekerjaan memberikan kepuasan kerja,bagi karyawan terbaru.

 D. Korelasi
       Koefisien korelasi dapat digunakan untuk mengukur asosiasi atau hubungan antar variabel.

  v Variabel kompensasi (X1) terhadap variabel kepuasan kerja (Y) mempunyai koefisien korela 
          sebesar 0,852. Koefisien korelasi menunjukkan tingkat hubungan antara kompensasi dan kepuasan 
          kerja sangat kuat dan positif, berarti semakin meningkat sarana kompensasi akan meningkatkan 
          kepuasan kerja karyawan.

  v Variabel iklim organisasi (X2) terhadap variabel kepuasan kerja (Y) mempunyai koefisien korelasi 
           sebesar 0,714. Koefisien korelasi tersebut menunjukkan tingkat hubungan iklim organisasi dan 
          kepuasan kerja kuat dan positif berarti semakin baik persepsi karyawan terhadap iklim organisasi        maka kepuasan kerja akan meningkat.

  v Variabel kompensasi (X1) dan variabel iklim organisasi (X2) terhadap variabel kepuasan kerja (Y) 
          mempunyai koefisien korelasi sebesar 0,883. Koefisien korelasi tersebut menunjukkan tingkat 
          hubungan kompensasi dan iklim organisasi terhadap kepuasan sangat kuat dan positif yang berarti 
         persepsi karyawan terhadap kompensasi dan iklim organisasi baik sehingga kepuasan kerja akan 
         meningkat

  vKoefisien determinasi atas sarana kompensasi yang diterima dan iklim organisasi yang ada 
         memberikan nilai sebesar 77,97% terhadap kepuasan kerja karyawan, hasil tersebut di atas sesuai 
         dengan pendapat Spector (1997) yang menyatakan bahwa aspek-aspek yang mempengaruhi 
         kepuasan kerja selain gaji dan fasilitas adalah penghargaan yang diberikan kepada karyawan, 
         komunikasi, hubungan dengan teman sekerja, kondisi pekerjaan, keamanan dan lain-lain



Kesimpulan

Hasil penentuan urutan faktor dari variabel kompensasi yang paling mempengaruhi kepuasan kerja adalah komponen tunjangan yang berbeda dari gaji bulanan, sedangkan hasil penentuan urutan faktor dari variabel iklim organisasi yang paling mempengaruhi kepuasan kerja diperoleh dari sistem sosial yang dipengaruhi lingkungan internal dan eksternal dengan bervariasinya iklim organisasi yang diciptakan British International School. Penetapan hari kerja sampai pujian dan penghargaan dari rekan kerja adalah respon yang paling disikapi secara positif.
Hubungan kompensasi yang diterima karyawan dan iklim organisasi secara bersama-sama menunjukkan hubungan yang sangat kuat dan positif terhadap kepuasan kerja. Namun hubungan kompensasi terhadap kepuasan kerja lebih besar dibandingkan hubungan iklim organisasi terhadap kepuasan kerja. Hal ini menunjukkan bahwa menciptakan kompensasi dan proses balas jasa yang baik terhadap karyawan akan lebih mendorong kepuasan kerja karyawan dibandingkan dengan menciptakan iklim organisasi yang baik



Daftar Pustaka


Sari, E. (2009). Pengaruh kompensasi dan iklim organisasi terhadap kepuasan kerja. Jurnal Ilmu Administrasi dan Organisasi, 16, 18-24

Selasa, 05 Januari 2016

Analisis jurnal The Impact of Reward Management and Job Enrichment On Job Satisfaction among Employees In The Ogun State Polytechnics

Kelompok 8 (Alpukat)


Disusun oleh :
Andrew Wiratama
Mikha Meyanti B.
Riyan Anugerah
Ulfah Indah K.
Wira Utami H.
kelas : 3PA06



International Journal of Business and Management Invention ISSN (Online): 2319 – 8028, ISSN (Print): 2319 – 801X
www.ijbmi.org Volume 3 Issue 3ǁ March. 2014ǁ PP.19-26
www.ijbmi.org
The Impact of Reward Management and Job Enrichment On Job Satisfaction among Employees In The Ogun State Polytechnics.
David OlusegunAninkan
Dept of Business Administration and Management; MoshoodAbiolaPolytehnic Abeokuta, Ogun State Nigeria

REVIEW KELOMPOK ALPUKAT :
PENGANTAR
Jobsatisfaction tidak diragukan lagi merupakan prasyarat untuk pertumbuhan organisasi atau bahkan suatu bangsa. Tidak adanya Kepuasan kerja adalah bencana nasional di Nigeria. Tidak heran dia bangsa tidak bergerak maju. Agitasi saat ini, gingles dan iklan oleh NULGE sebagai advokasi untuk otonomi dewan pemerintah daerah merupakan indikator ketidakpuasan dengan pekerjaan mereka. Gaji karyawan dewan lokal yang tertunda, dan yang bahkan ketika dibayar sama sekali. Sebuah survei yang dilakukan oleh Ogunjimi, Umunna, dan Ogunjimi (2008) faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja dari penjaga di Yankari Game Reserve, Bauchi menunjukkan bahwa sebagian besar anggota pasukan keamanan tidak puas dengan pekerjaan mereka karena remunerasi miskin, dan kurangnya paket kesejahteraan yang baik. Temuan lain pada motivasi guru dan insentif di Nigeria menunjukkan adanya krisis motivasi guru dan kepuasan kerja di Nigeria (Adelabu 2005). Dia menegaskan bahwa sistem pendidikan Nigeria adalah sttaffed oleh guru dengan semangat yang buruk dan rendahnya komitmen pekerjaan. Pada masyarakat terorganisir, organisasi melihat rata-rata pekerja sebagai sumber akar kualitas dan produktivitas keuntungan. Organisasi-organisasi atau bangsa tidak melihat investasi modal tetapi untuk karyawan, sebagai sumber fundamental dari perbaikan (Ogunjimi et al, 2008). Di sana, adalah peningkatan penekanan pada orang sebagai sumber utama keunggulan kompetitif, seringkali dianggap sebagai pembeda utama antara organisasi, dan banyak manajer mencoba untuk memahami kompleksitas memotivasi orang di tempat kerja dan menyediakan mereka dengan kepuasan kerja sehingga mereka dapat mendapatkan employee commitment (Galanou, Georgakopolous, Sotiropoulous dan Dimitris; 2010).
Masalah kepuasan kerja telah menjadi penyebab gencarnya sengketa dengan Academic Staff Union Polytechnics dan pemerintah Nigeria. Isu-isu mulai dari otonomi, kondisi kerja yang buruk, kegagalan untuk memenuhi perjanjian, untuk remunerasi memadai. Di Ogun State tertiary educational institutions, keluhan telah menjadi tunggakan gaji yang belum dibayar, wenangan tinggi dewan pemerintahan, keterlambatan pembayaran gaji bulanan dan tunjangan. Bagi karyawan untuk menjadi efektif dan efisien pada pekerjaan mereka, sangat penting untuk puas dengan pekerjaan mereka. Hal ini pada premis "kepuasan - menyebabkan kinerja" hipotesis; bahwa penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dampak manajemen reward pada kepuasan kerja antara karyawan di Ogun State Polytechnics.

LITERATURE
Perspectives of Reward Management
Manajemen reward telah digambarkan sebagai pengembangan, implementasi, pemeliharaan, komunikasi dan evaluasi proses reward (Murlis seperti dikutip dalam Galanou et al 2010) .suatu tujuan manajemen imbalan adalah untuk memastikan pencapaian dari kedua perusahaan, tujuan dan sasaran individu dan serikat melalui perumusan dan pelaksanaan kebijakan yang tepat dan strategi bagi organisasi (Banjoko 2006). Manajemen Reward adalah tentang kompensasi atau penghargaan karyawan untuk membuat dirinya tersedia untuk bekerja, untuk kemampuan dan untuk kinerja spesifik pekerjaan, tugas atau untuk rendering layanan untuk organisasi. Kompensasi adalah totalitas dari kedua imbalan keuangan dan non keuangan yang seorang karyawan menerima pengembalian untuk tenaga kerja atau jasa kepada organisasi (Banjoko, 2006). Kompensasi karyawan termasuk gajinya dasar, upah insentif, dan tunjangan-nya (keuangan dan non-keuangan).
Perspectives of Job Enrichment
Job enrichment didefinisikan sebagai "mendesain ulang pekerjaan dengan cara yang meningkatkan kesempatan bagi pekerja untuk mengalami perasaan tanggung jawab, prestasi, pertumbuhan, dan pengakuan". Job enrichment adalah perubahan kualitatif untuk pekerjaan yang meningkatkan tingkat otonomi, umpan balik, dan pentingnya pekerjaan, yang memungkinkan pekerja untuk memiliki kontrol yang lebih baik dan umpan balik dalam pengaturan pekerjaan mereka (Hackman & Oldham, 1976).
Rencana Job enrichment harus dikelola untuk memastikan bahwa partisipasi karyawan adalah suatu keharusan dalam keputusan operasional. Karyawan harus diberdayakan untuk membuat mereka mampu mencapai tujuan organisasi dalam waktu jatuh tempo. Karyawan harus diaktifkan sedemikian rupa sehingga mereka dapat mengevaluasi kinerja mereka sendiri sendiri tanpa keterlibatan orang lain dan otoritas tingkat yang lebih tinggi dari organisasi. Juga karyawan harus dibuat mampu mengevaluasi dan kemudian mengelola kinerja mereka sesuai dengan cara mereka sendiri dan standar mereka sendiri (Saleem, Shaheem & Saleem 2012). Temuan penelitian lain mengungkapkan bahwa selalu ada hubungan positif antara keterlibatan dan pencapaian tujuan oleh para pekerja ketika karyawan ini "pekerjaan yang diperkaya. Bahwa Job enrichment juga meningkatkan tingkat motivasi dan kinerja karyawan di tempat kerja dan kecenderungan mereka untuk mencapai tujuan juga menjadi lebih mungkin (Myer, 1970, Latham & Yuki, 1975).
Perspectives of Job Satisfaction
Locke (seperti dikutip dalam Yang dan Lee 2009) didefinisikan Kepuasan kerja sebagai keadaan emosional yang menyenangkan atau positif yang dihasilkan dari penilaian pekerjaan atau pengalaman kerja yang. Smith et al (seperti dikutip dalam Galanou et al, 2010) didefinisikan kepuasan kerja sebagai perasaan bahwa pekerja memiliki untuk pekerjaannya. Spector (1997) berpendapat: "sedangkan perspektif kemanusiaan memandang kepuasan kerja sebagai refleksi dari pengobatan yang baik dari karyawan, perspektif utilitarian memandang kepuasan kerja sebagai anteseden fungsi organisasi yang positif". The utilitarian school of job satisfaction menempatkan penekanan pada hubungan positif antara kepuasan kerja dan kinerja organisasi yang lebih tinggi.
The Relationships Between Job Satisfaction, Job Enrichment and Reward Management.
Sebuah meta-analisis dari 28 studi telah melaporkan bahwa Job Enrichment secara positif berhubungan dengan kepuasan kerja (Loher et al. 1985). Juga, banyak penelitian empiris di Hachman dan Olham "s (1980) model Job Enrichment dikonfirmasi hubungan positif antara Job Enrichment dan kepuasan kerja. Yang dan Lee (2009) dalam penelitian mereka pada "menghubungkan pemberdayaan dan Job Enrichment dengan niat omset: pengaruh kepuasan kerja", menemukan bahwa terdapat hubungan positif antara Job Enrichment dan kepuasan kerja. Karyawan dengan pekerjaan yang diperkaya lebih cenderung puas dengan mereka. (Orpen, 1979) mengamati dampak Job Enrichment pada karyawan dan menemukan bahwa Job Enrichment mengarah ke peningkatan yang signifikan dalam kepuasan kerja karyawan, motivasi internal dan keterlibatan kerja. Tapi mungkin ada beberapa hasil negatif Job Enrichment. Hal ini juga mengamati bahwa Job Enrichment dapat menyebabkan intensifikasi kerja (Raza & Nawaz, 2011). Misalnya, laporan tentang pekerjaan pengayaan oleh Business Week (1983, p 100) menyatakan bahwa Job Enrichment meningkat beban dan tanggung jawab pada karyawan tambahan.

Hipotesis
Hipotesis dari literatur tersebut di atas, sebagai berikut:
H1: berbagai keterampilan karyawan berkorelasi positif dan signifikan dengan kepuasan kerja.
H2: identitas tugas Karyawan berkorelasi positif dan signifikan withjob kepuasan.
H3: signifikansi tugas karyawan berkorelasi positif dan signifikan dengan kepuasan kerja.
H4: otonomi Karyawan berkorelasi positif dan signifiantly dengan kepuasan kerja.
H5: Masukan kesempatan berkorelasi positif dan significantlywithjob kepuasan.
H6: manajemen Reward berkorelasi positif dan significantlywithjob kepuasan.

Hasil
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan positif yang signifikan yang kuat antara berbagai keterampilan yang diberikan karyawan dan tingkat nya kepuasan kerja (r = 0,178, P <029). Ini berarti bahwa sebagai berbagai keterampilan yang tersedia untuk kenaikan karyawan, tingkat kepuasan kerja meningkat.

Kesimpulan dan Saran
Pekerjaan di politeknik harus lebih diperkaya dengan membuat pekerjaan lebih menarik terutama bagi dosen. Hal ini dapat dicapai dengan meninjau dan memperbesar ruang lingkup saja individu silabus, menyediakan alat peraga yang relevan dan modern. Juga harus ada pelatihan reguler staf untuk meningkatkan atau meningkatkan jumlah keterampilan yang individu menggunakan saat melakukan pekerjaan (yaitu berbagai Skill). Staff harus juga semakin terlibat dalam pengambilan keputusan dan diberikan kebebasan untuk memilih bagaimana dan kapan pekerjaan dilakukan (yaitu otonomi). Hal ini diperlukan terutama di kalangan dosen di lembaga.

Keterbatasan
Keterbatasan penelitian ini adalah bahwa staf kader yang lebih rendah tidak terwakili dalam sampel penelitian (Hanya 6% dari sampel). Sebuah studi lebih lanjut yang mengurus staf junior mungkin diperlukan. Juga, studi ini dianggap hanya satu aspek komitmen (Commitment Affective). Sebuah studi lebih lanjut dapat mencakup komitmen berkelanjutan dan komitmen normatif. Sebuah studi lebih lanjut diperlukan untuk mempertimbangkan faktor-faktor lain yang bisa mempengaruhi korelasi negatif antara manajemen reward dan kepuasan kerja.

Senin, 28 Desember 2015

Review Jurnal Motivasi Berprestasi pada Mahasiswa yang Berkuliah dengan Jurusan Pilihan Orang Tua

Kelompok 8 (Alpukat)

Disusun oleh :
Andrew Wiratama
Mikha Meyanti B.
Riyan Anugerah
Ulfah Indah K.
Wira Utami H.
kelas : 3PA06


BAB I : PENDAHULUAN

A.          Latar Belakang
Dalam pemilihan jurusan, ada beberapa orang tua yang memilihkan dan memaksakan kehendaknya pada anak untuk berkuliah sesuai dengan pilihan mereka. Orang tua yang memilihkan jurusan tanpa mempedulikan minat anaknya, akan membuat anak merasa terbebani dalam menjalani kuliah mereka dan tidak memiliki motivasi. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih jurusan kuliah, salah satunya adalah minat. Sayangnya faktor minat kadang kala terlupakan oleh siswa dan para orang tua. Padahal pemilihan jurusan yang sesuai dengan minat berpartisipasi pula dalam menentukan motivasi belajar serta prestasi saat menimba ilmu di perguruan tinggi (Harian Media Indonesia, 2009).
B.          Rumusan Masalah
Motivasi berperan penting dalam setiap pencapaian tujuan seseorang. Berdasarkan beberapa penjelasan yang ada, anak yang berkuliah tidak sesuai dengan minatnya menyebabkan rendahnya motivasi berprestasi sehingga berakibat buruk terhadap prestasi akademiknya. Oleh karena itu motivasi berprestasi sangat dibutuhkan dalam proses belajar, karena jika segala sesuatunya itu dipaksakan maka akan berpengaruh terhadap hasil yang diperoleh. Winkel (1991) menegaskan bahwa motivasi berprestasi merupakan daya penggerak dalam diri siswa untuk mencapai taraf prestasi akademik yang setinggi mungkin demi penghargaan kepada diri sendiri. Dalam mencapai prestasi yang setinggi mungkin, setiap individu harus memiliki keinginan yang kuat demi mencapai tujuannya. Dimana hal itu sangat tergantung pada usaha, kemampuan dan kemauan dari individu itu sendiri.
C.          Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan penjelasan tentang penyebab mahasiswa memilih berkuliah dengan jurusan pilihan orang tua, mendapatkan penjelasan tentang gambaran motivasi berprestasi pada mahasiswa yang berkuliah dengan jurusan pilihan orang tua dan mendapatkan penjelasan tentang apa faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi berprestasi pada mahasiswa yang berkuliah dengan jurusan pilihan orang tua.
D.          Manfaat Penelitian
Penelitian ini bermanfaat untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang masalah manusia dan sosial, peneliti menginterpretasikan bagaimana subjek memperoleh makna dari lingkungan sekeliling dan bagaimana makna tersebut mempengaruhi perilaku mereka. Penelitian dilakukan dalam setting yang alamiah bukan hasil perlakuan (treatment) atau manipulasi variabel yang dilibatkan.


BAB II : KAJIAN PUSTAKA

Menurut Woolfolk (1993) pengertian motivasi berprestasi sebagai suatu keinginan untuk berhasil, berusaha keras dan mengungguli orang lain berdasarkan suatu standar mutu tertentu. Sedangkan menurut Royanto (2002) motivasi berprestasi adalah keinginan mencapai prestasi sebaik-baiknya, biasanya yang menjadi ukurannya adalah diri sendiri (internal) ataupun orang lain (eksternal). Berdasarkan uraian tersebut maka dapat ditarik pengertian bahwa motivasi berprestasi merupakan suatu dorongan atau keinginan dalam diri untuk mencapai kesuksesan yang setinggi mungkin sehingga tercapai kecakapan pribadi yang tinggi, sehingga individu berusaha keras dengan sebaik-baiknya dalam pencapaian prestasi di bidang akademik. Sedangkan Faktor-faktor yang Menyebabkan Motivasi Berprestasi Menurut Morgan (1990), antara lain : tingkah laku dan karakteristik model yang ditiru oleh anak melalui observational learning, harapan orang tua, lingkungan penekanan kemandirian, dan praktik pengasuhan anak.


BAB III : METODOLOGI

E.          Pendekatan
Dalam penelitian ini akan digunakan metode kualitatif dimana pendekatan ini dilakukan untuk mengembangkan pemahaman dalam mengintepretasi apa yang ada dibalik peristiwa, latar belakang pemikiran manusia yang terlibat di dalamnya serta bagaimana manusia meletakkan makna pada peristiwa yang terjadi tersebut (Sarantakos dalam Poerwandari, 1998).
F.           Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah mahasiswa yang berkuliah dengan jurusan pilihan orang tua dan telah menjalani kuliah kurang lebih selama empat atau lima semester. Adapun jumlah subjek dalam penelitian ini sebanyak satu orang.
G.          Tahap Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode kualitatif dengan teknik wawancara dan observasi. Pada penelitian ini digunakan metode wawancara dengan pedoman umum, dan teknik observasi non-partisipan, dimana peneliti tidak ikut serta dalam kegiatan yang dilakukan subjek.
H.          Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan melalui metode wawancara dan metode observasi. metode wawancara dengan pedoman umum, dimana peneliti dilengkapi pedoman wawancara yang sangat umum, yang mencantumkan isu–isu yang harus diliput tanpa menentukan urutan pertanyaan, bahkan mungkin tanpa bentuk pertanyaan eksplisit. Peneliti juga menggunakan teknik observasi non-partisipan, dimana peneliti tidak ikut serta dalam kegiatan yang dilakukan subjek. Peneliti berfungsi sebagai penonton dan pencatat langsung dimana pencatat hasil observasi segera setelah pengamatan dilakukan atau ketika pengamatan sedang berlangsung.
I.            Alat Bantu Penelitian
-
J.       Analisa Data
Proses analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini dianalisa dengan teknik data kualitatif yang diajukan oleh Marshall dan Rossman. Dalam menganalisa penelitian kualitatif terdapat peneliti melakukan beberapa tahapan meliputi, yaitu : mengorganisasikan data, pengelompokan berdasarkan kategori, tema dan pola jawaban, menguji asumsi atau permasalahan yang ada terhadap data, mencari alternatif penjelasan bagi data setelah kaitan antara kategori dan pola data asumsi terwujud dan tahapan yang terakhir adalah peneliti menulis hasil penelitian.


BAB : IV

A.          Hasil Penelitian
Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis menyimpulkan tentang penyebab subjek memilih berkuliah dengan jurusan pilihan orang tua, terdapat di antaranya faktor pertama karena adanya adjustment dalam diri subjek, karena pilihan orang tua dan informasi dari lingkungan. Subjek dalam menjalani kuliah pilihan orang tuanya, subjek menyesuaikan diri pada tuntutan orang tuanya meskipun jurusan kuliah subjek tidak sesuai minat subjek karena subjek berkeinginan untuk menjadikan dirinya lebih berguna untuk keluarga dan keinginan untuk membuat kedua orang tua subjek bangga terhadap subjek juga sebagai pembuktian diri subjek bahwa subjek mampu menyelesaikan kuliah pilihan orang tuanya karena subjek ingin membahagiakan orang tua dan ingin bisa menyelesaikan kuliah pilihan orang tuanya juga agar lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Faktor kedua adalah karena pilihan orang tua, orang tua subjek meminta subjek untuk berkuliah dengan jurusan pilihan orang tua subjek yaitu teknik mesin. Karena orang tua subjek memiliki obsesi yang tidak tercapai sehingga subjek menjadi objek pelampiasan orang tua subjek, dan menurut orang tua subjek jurusan pilihannya memiliki masa depan yang baik. Faktor ketiga yang membuat subjek memilih berkuliah dengan pilihan orang tuanya yaitu adanya informasi dari lingkungan sekitar mengenai sisi positif perkuliahan subjek seperti kemudahan dalam mendapatkan pekerjaan dan masa depan yang terjamin sehingga subjek memilih untuk berkuliah meskipun dengan pilihan orang tua.
B.          Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai motivasi berprestasi pada mahasiswa yang berkuliah dengan jurusan pilihan orang tua dapat disimpulkan bahwa, faktor yang menyebabkan subjek memilih jurusan pilihan orang tua yaitu faktor pertama adalah adanya adjustment sehingga subjek menyesuaikan dengan keinginan dari luar untuk membahagiakan orang tuanya. Faktor kedua yaitu karena merupakan pilihan orang tua. Faktor ketiga yaitu adanya pengetahuan dari lingkungan sekitar mengenai sisi positif perkuliahan subjek seperti kemudahan dalam mendapatkan pekerjaan dan masa depan yang terjamin. Mengenai gambaran motivasi berprestasi terdapat beberapa gambaran yang menggambarkan motivasi berprestasi subjek, yaitu kurang tanggung jawab terhadap kuliah, tidak ada pertimbangan resiko, penyelesaian tugas yang tidak efektif, kreatif dan inovatif, dan tidak memanfaatkan waktu untuk belajar. Selain itu juga terdapat dua faktor yang mempengaruhi motivasi berprestasi subjek, diantaranya faktor internal dan eksternal. Pada faktor internal terdapat adanya perasaan belum berhasil, kurang percaya diri terhadap kemampuan akademik dan perasaan beban terhadap tanggung jawab. Pada faktor eksternal terdapat adanya dorongan orang tua, adanya reward dan dukungan lingkungan kuliah.


BAB : V

A.      Kelebihan Penelitian
Keseluruhan dari isi jurnal sudah terlihat sangat baik dalam hal mendeskripsikan apa yang ingin disampaikan oleh peneliti. Karena penelitian ini termasuk penelitian yang menggunakan metode secara kualitatif yakni dengan menggunakan metode wawancara dan juga metode observasi mendalam. Pada metode wawancara didukung oleh pedoman wawancara yang sangat umum, yang mencantumkan isu–isu yang harus diliput tanpa menentukan urutan pertanyaan, bahkan mungkin tanpa bentuk pertanyaan eksplisit.
B.      Kekurangan Penelitian
Menurut saya keseluruhan dari isi jurnal yang dilakukan oleh peneliti sudah sangat baik sehingga tidak terdapat kekurangan dalam penelitian tersebut.

Selasa, 17 November 2015

Review Film Top Secret (The Billionaire)

Kelompok 8 (Alpukat)

Disusun oleh :
Andrew Wiratama
Mikha Meyanti B.
Riyan Anugerah
Ulfah Indah K.
Wira Utami H.
kelas : 3PA06



Review Film
Judul   : Top Secret: The Billionaire.
Durasi film  : 124 menit.
Gendre film  : Drama.
Tahun terbit  : 20 Oktober 2011.
Asal film  : Thailand.
Sutradara  : Songyos Sugmakanan.
Produser : Jira Maligool, Chen ChonneeSoonthornsaratul,
Suvimoon Techasupinun, Vannidee Pongsitisak,
Radeenapis Kosiyachinda. 
Produser eksekutif : Pai Boon Damrongchaithan, Boogaba Daoruang,         
Visute Poolrakas, Jina Ososilp.
Editor : Sasikan Suranasuthi.
Produksi  : GMM Thai Hub.
Naskah/skenario : Nawapol Tumrongrattanarit.
Penyunting gambar : Niramon Ross.
Ilustrasi   : Phairot Siriwath.
Penata musik  : Terdsak Junpan. 
Penata rias   :Kanung Damkaow.
Penata busana  : Wasana Bencachat.
Lagu tema  : Saeng Sudthay/The Last Night.
Penyanyi  : Body Slam.

The Billionaire, juga dikenal sebagai Top Secret: Wai Roon Pan Lan, adalah sebuah film biografi Thai dirilis oleh GMM Thai Hub. Hal ini disutradarai oleh Songyos Sugmakanan dan bintang Pachara Chirathivat, Somboonsuk Niyomsiri (Piak Poster) dan Walanlak Kumsuwan. Film ini menceritakan kisah Top Itthipat Kulapongvanich, bagaimana dia memuali bisnisnya dan pada usia sembilan belas tahun putus dari universitas untuk memulai bisnis rumput laut goreng kemasan.Sekarang ‘Tao Kae Noi Food & Marketing’pioner rumput laut kemasan di Thailand dan Top menjadi salah satu milyarder termuda Thailand. Film ini dirilis pada tanggal 20 Oktober 2011 di Thailand, di mana ia meraup 38.796.264 baht.
Dalam film tersebut, Top Ittipat adalah seorang pemuda Thailand, usianya baru 16 tahun duduk di bangku SMA dan dia sangat kecanduan bermain game online. Dia berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja. Pada awal pertama kali dia mengenal kegiatan bisnis/jual beli adalah pada saat dia sedang bermain game online, seseorang yang bernama Jack ingin membeli senjata kepada TOP. Awalnya TOP tidak ingin menjual senjatanya, namun setelah ditawari akan diberi uang sebesar 30 Bath, akhirnya TOP berani untuk menjualnya.
Dari penjualan senjatanya itulah, dia semakin lama semakin meraup keuntungan yang cukup besar sampai dia pun mampu membeli sebuah mobil. Ia mulai melakukan sebuah bisnis dari situ, Namun, kedua orang tua TOP tidak setuju akan apa yang dilakukan oleh TOP mengenai perdagangan senjata game online. Saat orang tua TOP mengetahui bahwa anaknya tidak diterima di Universitas Negeri, orang tuanya pun semakin geram dengan kelakuan TOP yang seakan-akan tidak menghiraukan pendidikannya.
Suatu ketika, akun game online tersebut dihapus oleh admin game online tersebut karena telah dianggap menyalahgunakan kepentingan komersial, dia pun bingung bagaimana untuk mendapatkan uang lagi seperti sebelumnya untuk biaya masuk Universitas. Kemudian Top memulai bisnis kembali dengan berjualan DVD Player.Dia membeli 50 unit DVD player, namun setelah dicoba ternyata DVD tersebut rusak karena DVD bajakan.Top membawa kembali semua DVD tersebut ke toko tempat dia membeli dengan niat mengembalikannya, namun barang tidak dapat dikembalikan.
Saat meminta ganti rugi ke pedagang yang menjual barang tersebut, Top malah mendapat pernyataan yang menyalahkan dirinya kenapa membeli barang bajakan sehingga tidak ada garansi.
Orang tuanya terus menerus menuntutnya untuk kuliah. Top mengikuti seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) tapi ia tidak lulus sehingga mendaftar ke Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Ayahnya bersikukuh tidak akan membiayainya jika ia kuliah di PTS dengan alasan biayanya lebih mahal dibanding PTN. Meskipun sama-sama kecewa terhadap Top, ibu Top membujuk ayah untuk tetap membiayai kuliah anaknya meskipun di PTS dengan alasan pendidikan merupakan hal yang penting (awalnya saya kira ibunya Top akan sama-sama tidak peduli kepada Top ternyata film ini menggambarkan betapa pintu maaf ibu lebih terbuka dibandingkan ayah). Akhirnya ayahnya pun luluh dan memberikan uang kepada Top untuk membayar biaya kuliah di PTS. Top tidak menerima uang tersebut dan membayar uang kuliah dengan menjual jimat ayahnya yang telah ia curi.
Meskipun sudah mengenyam bangku kuliah tapi ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk pergi ke luar dan mencari ide bisnis. Pada suatu hari ia mengunjungi sebuah food expo. Di sana terdapat berbagai macam alat pabrik yang dapat memproduksi makanan dengan lebih cepat. Ia akhirnya tertarik dengan mesin untuk memasak kacang. Karena ia tidak sanggup membelinya ia kemudian menyewa mesin tersebut. Sebelum memulai bisnis kacang, ia mencari tahu bagaimana pedagang kacang mengolah kacang tersebut. Mulai dari bagaimana cara membedakan kacang yang jelek dengan yang bagus, bagaimana cara memasaknya, dan bagaimana mengolah kacang agar menghasilkan rasa yang enak. Saat ia sudah menemukan bagaimana cara menghasilkan kacang yang enak, ia lalu membeli kacang dan mengolahnya sendiri di rumah. Setelah itu ia meminta paman, ibu, dan ayahnya untuk mencoba kacang buatannya. Ternyata ketiganya mengatakan bahwa kacang tersebut rasanya enak. Bahkan tamu ayahnya mengira kacang yang dihidangkan padanya merupakan kacang dari pasar. Ayahnya Top kemudian memberi tahu tamu tersebut bahwa kacang itu merupakan buatan anaknya karena anaknya sangat berambisi untuk menjadi pengusaha muda.
Top dan pamannya mulai memasarkan kacang hasil olahannya di sebuah mall. Pada awal pembukaan tokonya, Top hanya mempunyai sedikit pembeli.
Saat itu ia mencari sendiri apa yang menyebabkan tokonya sepi pelanggan dan akhirnya ia menyadari bahwa lokasi tokonya itu kurang strategis. Ia pun meminta perpindahan lokasi. Setelah lokasi bisnisnya pindah, omsetnya naik dan sampai membuka cabang baru di mall tersebut.
Saat omset bisnis kacang sedang naik timbul masalah. Pihak pengelola mall ingin membatalkan kontrak karena kacang yang dibuatnya menghasilkan asap yang mengotori atap mall. Top meminta pengelola mall untuk memberinya waktu untuk membersihkan atap tersebut. Pengelola mall pun memberinya waktu 1 hari untuk membersihkan atap tersebut. Top baru bisa membersihkan atap tersebut malam hari, saat semua pemilik toko pulang karena saat pagi dan siang cat yang dia gunakan untuk membersihkan atap mengotori pedagang yang lain.
Saat dia sedang membersihkan atap datanglah satpam yang mengatakan padanya bahwa waktu yang diberikan padanya sudah habis. Top memberikan uang sogokan kepada satpam tersebut. Di luar dugaan ternyata satpam tersebut malah meminta ibu Top (saat itu ibunya menemaninya) untuk mengajarkan anaknya tentang arti jujur dan tanggung jawab. Akhirnya Top meninggalkan mall tersebut dengan hati yang kecewa karena tidak bisa menyelesaikan target pekerjaannya.
Saat bisnis kacangnya sedang naik Top pernah meninggalkan kelas ketika ujian berlangsung. Teman Top sudah menyarankan padanya untuk datang ke kampus dan memberikan penjelasan atas perilakunya tapi Top tetap fokus pada bisnis kacangnya dan tidak mempedulikan ucapan temannya. Karena itulah Top dikeluarkan dari kampus.
Top sempat kehilangan arah saat bisnis kacangnya jatuh. Ibu dan ayahnya mengajak Top untuk pindah ke Cina karena di Thailand mereka sudah tidak memiliki apa-apa lagi (saat itu ayah Top terlilit hutang). Top sempat berpikir untuk ikut ke Cina tapi kemudian ia berubah pikiran dan mengatakan pada orang tuanya bahwa ia akan bekerja keras dan akan membuat orang tuanya kembali ke Thailand.
Di tengah kebimbangan karena bisnis kacangnya jatuh, Top harus menerima kenyataan bahwa rumah yang ia tinggali dalam proses penyitaan bank. Saat keluar rumah Top bertemu dengan pacarnya yang tiba-tiba menamparnya karena merasa Top menghilang tanpa kabar. Untuk menghibur Top, pacarnya mengajak Top membeli mie kepiting. Saat dalam perjalanan pacarnya memberikan cemilan rumput laut yang dibelinya di tempat yang jauh. Top kemudian bertanya “Kenapa harus membeli sejauh itu? Apakah di sini tidak ada yang menjualnya?”. Pacarnya mengatakan kalau makanan tersebut tidak dijual di sini. Saat mencoba cemilan rumput laut itu ia menemukan ide untuk berbisnis cemilan rumput laut.
Awalnya ia membeli rumput laut mentah kemudian menggorengnya tapi ia memiliki kesulitan untuk mengawetkannya karena makanan tersebut hanya bertahan 3 hari. Kesulitan yang dihadapinya kali ini lebih banyak dibandingkan saat memulai bisnis kacang karena tidak ada orang yang bisa ia tanya bagaimana cara mengolah rumput laut menjadi cemilan yang enak dan awet.
Masalah cara mengawetkan rumput laut berhasil ia pecahkan dengan  bertanya kepada dekan fakultas ilmu dan teknologi pangan. Awalnya dosen tersebut tidak responsif terhadap Top tapi karena Top menceritakan keadaannya kepada dosen tersebut maka dosen tersebut merasa iba sampai-sampai mengeluarkan air mata. Dosen tersebut memberi tahu Top bagaimana cara agar rumput lautnya bisa tahan lama.
Masalah lain yang belum terpecahkan adalah bagaimana menghasilkan cemilan rumput laut yang enak. Top kemudian membeli banyak rumput laut dan mencoba memasak rumput laut itu dengan pamannya. Sampai pada kardus terakhir paman Top belum menghasilkan cemilan rumput laut yang enak. “Apalagi yang akan kita lakukan Top, rumput lautnya sudah hampir habis?”. “Aku akan membelinya lagi”. Top kemudian membeli lagi rumput laut dengan menggunakan uang hasil penjualan komputer yang ada di rumahnya (di rumah Top terdapat banyak komputer karena dulu ia sangat menggandrungi game online).
Pada malam hari Top baru sampai di rumah. Saat masuk ke rumah, keadaan rumah gelap  karena lampu belum dinyalakan. Top memanggil pamannya tapi tak kunjung ada jawaban. Saat melihat ke dapur ternyata pamannya jatuh dan terdapat darah di sekitar kepalanya. Top kemudian membawa pamannya ke rumah sakit.
Pagi harinya Top mencoba memasak rumput laut yang telah dibelinya. Top tak kunjung berhasil menghasilkan cemilan rumput laut yang enak sampai persediaannya habis. Ketika melihat ke lantai dapur ada satu bungkus rumput laut yang sudah lembab karena terkena air hujan. Ia kemudian mencoba memasak rumput laut tersebut dan ternyata rumput laut tersebut lebih gurih dibandingkan rumput laut yang dimasak sebelumnya.
Setelah itu Top kembali menyewa tempat di mall untuk berjualan cemilan rumput laut. Respon yang diberikan pengunjung mall sangat baik. Top yakin bahwa dirinya bisa menghasilkan uang 1 juta bath/tahun (sekitar 370 juta).
Top mendapat telpon dari ibunya yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya dan memintanya untuk menjaga kesehatan. Ibu kemudian meminta Top untuk berbicara dengan ayahnya. “Top semester ini kamu harus belajar dengan keras, semester depan kamu bisa pindah ke sini (Cina) dan ayah sudah membelikan tiketnya”. Top kemudian bertanya kepada ayahnya berapa jumlah hutang ayahnya. Ayahnya menjawab 40 juta bath (sekitar 14,8 milyar). Seketika itu Top merasa keberhasilan yang ia capai saat ini hanya seperti debu yang tidak ada artinya.
Top mendengarkan beberapa kaset hasil rekaman temannya saat ia tidak masuk kuliah (ketika tidak masuk kuliah Top meminta temannya untuk merekam apa yang disampaikan dosen). Dalam kaset tersebut dijelaskan bahwa kebanyakan perusahaan sukses karena mereka berpikir positif dan tidak mudah menyerah. Dalam kaset tersebut pun dijelaskan strategi hutan rimba. Strategi hutan rimba adalah bagaimana kita menjalin hubungan dengan partner bisnis di setiap daerah, kita menggerakan partner di setiap wilayah, dengan demikian konsumen kita akan terbentuk dimana-mana, kita tidak perlu melakukan promosi tetapi konsumen sendiri yang akan mendatangi kita. Dari kata-kata itulah akhirnya Top mendapatkan ide untuk bekerja sama dengan 7-Eleven sebab 7-Eleven sudah mempunyai cabang di banyak wilayah.
Top kemudian menghubungi 7-Eleven dan menanyakan bagaimana prosedur untuk memasarkan barang di 7-Eleven. Top kemudian mendatangi kantor 7-Eleven untuk bertemu dengan CEO perusahaan tersebut yang bernama Nn. Pu. Setelah menunggu sangat lama akhirnya Nn. Pu keluar dan meminta Top untuk meninggalkan produknya karena ia akan rapat. Top kemudian meminta waktu 10 menit untuk menjelaskan produknya. Sebelum Top selesai menjelaskan produknya Nn. Pu sudah memotong ucapan Top dan meminta Top untuk menunjukan produknya. Saat melihat produk Top, Nn. Pu berkomentar bahwa desain produknya tidak layak jual dan harga yang ia tawarkan terlalu mahal.
Setelah itu Top mendatangi ahli desain untuk membuatkan desain bagi produknya. Top sempat berpikir untuk mengganti nama produknya dengan nama artis terkenal tapi karena menurut ahli desain nama Tao Kae Noi (pengusaha muda) sudah bagus jadi Top tidak mengganti nama produknya. Setelah desain produknya selesai Top kembali mendatangi kantor 7-Eleven. Top sudah menunggu Nn. Pu dengan waktu yang lebih lama dibandingkan kedatangannya yang pertama. Ia bahkan sempat tertidur di ruang tunggu. Karena merasa dibaikan oleh Nn. Pu ia kemudian keluar dari kantor 7-Eleven dan memberikan produknya kepada penjaga lift.
Top sempat putus asa karena 7-Eleven tidak merespon dengan baik kedatangannya. Ia kemudian mengambil keputusan untuk menemui orang tuanya di Cina. Saat Nn. Pu menggunakan lift ia melihat makanan yang ada dalam lift tersebut. Nn. Pu kemudian memanggil Top ke kantor dan bersedia melakukan kerja sama dengannnya. Nn. Pu kemudian memberi  tahu Top bahwa sebulan lagi ia dan GMP (Good Manufacturing Practice) akan mengunjungi pabriknya untuk melakukan inspeksi.
Melihat dapur tempat ia memasak jauh dari kesan layak, ditambah orang yang membantunya adalah paman yang sudah berumur ia kemudian mendatangi bank untuk meminta pinjaman. Sayang sekali karena usia Top baru 19 tahun pegawai bank tersebut tidak bisa memberikan pinjaman karena ia belum memenuhi syarat untuk mengajukan pinjaman ditambah keluarganya terlilit utang padahal pegawai bank sebenarnya terkesan dengan kerja keras Top. Ia kemudian menjual mobil miliknya dan menjadikan uang hasil penjualan mobil tersebut sebagai modal untuk membuat pabrik.
Nn. Pu mengunjungi pabriknya dan menyatakan bahwa pabriknya masih belum memenuhi standar. Seperti lampu yang tidak menggunakan tutup, saluran air yang salah, dan wastafel yang seharusnya digunakan adalah wastafel yang dibuka dengan injakan kaki. Paman terus mendesak Top untuk memberikan amplop kepada petugas inspeksi karena takut 7-Eleven tidak jadi melakukan kontrak dengan Top. Tapi Top takut kejadian dulu terulang kembali sehingga ia ingin semua yang ia lakukan saat ini ada dalam jalan yang benar.
Tidak lama setelah itu ia mendapat fax dari 7-Eleven yang berisi persetujuan kerja sama dengannya. Pagi harinya Top pergi ke tempat pemasaran barang dengan menggunakan truk yang berisi Tao Kae Noi. Ia sebenarnya terlambat datang ke tempat tersebut dan petugas tidak mengizinkannya untuk menurunkan produknya. Tapi karena Top memohon akhirnya petugas mengizinkan produknya untuk diturunkan. Saat Top hendak berlari petugas memanggilnya dan memberi tahu kalau hidungnya mengeluarkan darah (mimisan).
Top kemudian menelpon ayahnya dan mengatakan padanya bahwa sekarang ayah dan ibu bisa kembali ke Thailand.
2 tahun setelah menjalin kerja sama dengan 7-Eleven Top bisa melunasi hutang ayahnya dan kembali menempati rumah dengan orang tuanya. Saat ini Top memiliki 2500 karyawan dan mengirim produknya ke 6000 cabang 7-Eleven. Ia juga sudah mengekspor produknya ke 27 negara di dunia. Top telah memiliki perkebunan rumput laut di Korea Selatan. Pendapatan tahun 2010 sebesar 1.500 juta bath.


TEORI MOTIVASI & ANALISA FILM
BAB I
PENDAHULUAN
Banyak teori motivasi yang dikemukakan oleh para ahli yang dimaksudkan untuk memberikan uraian yang menuju pada apa sebenarnya manusia dan manusia akan dapat menjadi seperti apa. Motivasi juga bisa dikatakan sebagai rencana atau keinginan untuk menuju kesuksesan dan menghindari kegagalan hidup. Dengan kata lain motivasi adalah sebuah proses untuk tercapainya suatu tujuan. Seseorang yang mempunyai motivasi berarti ia telah mempunyai kekuatan untuk memperoleh kesuksesan dalam kehidupan..
Motivasi dapat berupa motivasi intrinsik dan ekstrinsik. Motivasi yang bersifat intinsik adalah manakala sifat pekerjaan itu sendiri yang membuat seorang termotivasi, orang tersebut mendapat kepuasan dengan melakukan pekerjaan tersebut bukan karena rangsangan lain seperti status ataupun uang atau bisa juga dikatakan seorang melakukan hobbynya. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah manakala elemen elemen diluar pekerjaan yang melekat di pekerjaan tersebut menjadi faktor utama yang membuat seorang termotivasi seperti status ataupun kompensasi.


BAB II
PEMBAHASAN
1.      Motivasi Menurut Para Tokoh
Kata motivasi berasal dari bahasa Latin yaitu movere, yang berarti bergerak (move). Motivasi menjelaskan apa yang membuat orang melakukan sesuatu, membuat mereka tetap melakukannya, dan membantu mereka dalam menyelesaikan tugas-tugas. Hal ini berarti bahwa konsep motivasi digunakan untuk menjelaskan keinginan berperilaku, arah perilaku (pilihan), intensitas perilaku (usaha, berkelanjutan), dan penyelesaian atau prestasi yang sesungguhnya.
Motivasi adalah suatu dorongan dari dalam diri seseorang yang mendorong orang tersebut untuk melakukan sesuatu, termasuk menjadi young entrepreneur (Sarosa, dalam rosmiati et al, 2015). Kebanyakan orang yang berhasil di dunia ini mempunyai motivasi yang kuat yang mendorong tindakan-tindakan mereka. Mereka mengetahui dengan baik yang menjadi motivasinya dan memelihara motivasi tersebut dalam setiap tindakannya. Baum, Frese, and Baron (dalam rosmiati et al, 2015) menjelaskan bahwa motivasi dalam kewirausahaan meliputi motivasi yang diarahkan untuk mencapai tujuan kewirausahaan, seperti tujuan yang melibatkan pengenalan dan eksploitasi terhadap peluang bisnis. Motivasi untuk mengembangkan usaha baru diperlukan bukan hanya oleh rasa percaya diri dalam hal kemampuannya untuk berhasil, namun juga oleh kemampuannya dalam mengakses informasi mengenai peluang kewirausahaan.
Menurut Wiodkowski (dalam Siregar & Nara, 2010) Motivasi adalah sebagai suatu kondisi yang menyebabkan atau menimbulkan perilaku tertentu dan yang memberi arah serta ketahanan (persistence) pada tingkah laku tersebut. Menurut Cropley (dalam Siregar & Nara, 2010) Motivasi juga dapat dijelaskan sebagai tujuan yang ingin dicapai melalui perilaku tertentu. Adapun, Menurut Sondang, (1989) Motivasi adalah daya pendorong yang mengakibatkan seseorang anggota organisasi mau dan rela untuk mengerahkan kemampuan dalam bentuk keahlian atau ketrampilan tenaga dan waktunya untuk menyelanggarakan berbagai kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dan menuaikan kewajibannya, dalam rangka pencapaian tujuan dan berbagai  sasaran organisasi yang telah ditentukan sebelumnya.
Menurut Baum (dalam rosmiati et al, 2015), motivasi adalah penggerak/ pendorong dalam diri yang mengarahkan tindakan seseorang terhadap tujuan tertentu, dan dengan demikian memfokuskan perhatian seseorang dan mendukung tindakan yang diambil.
Berdasarkan pengertian motivasi dan berwirausaha tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa motivasi berwirausaha merupakan daya penggerak/dorongan dalam diri yang menimbulkan semangat terhadap penciptaan suatu kegiatan/pekerjaan dengan melihat peluang yang ada disekitar, bertindak berani dalam mengambil resiko, melakukan kegiatan yang inovatif, serta memiliki orientasi terhadap laba. Motivasi berwirausaha yang digunakan dalam penelitian ini disesuaikan/berpedoman terhadap penelitian yang ditunjukkan oleh Shane, dkk (2003), yaitu sebagai berikut:
a.       Need for achievement (nAch)
Need for achievement merupakan kebutuhan yang paling menonjol dari teori kebutuhan McClelland lainnya. McClelland (1961) menyatakan bahwa individu dengan nAch tinggi memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk melaksanakan aktivitas atau tugas dengan tingkatan tanggung jawab, kemampuan (skill), upaya (effort), dan risiko yang cukup tinggi agar dapat mencapai hasil yang diharapkan, termasuk umpan balik yang jelas atas kinerjanya (dalam Shane, dkk, 2003).
b.      Locus of Control 
Locus of control merupakan bentuk pengendalian diri, yaitu sejauh mana seseorang yakin bahwa mereka menguasai nasibnya, atau keyakinan seseorang dapat mengendalikan diri sendiri atas peristiwa, kejadian yang dihadapi atau yang mempengaruhi dirinya. Seseorang yang memiliki internal locus of control, maka individu tersebut memiliki keyakinan akan dirinya bahwa mereka dapat mengendalikan apa yang terjadi pada diri mereka, dapat mengatur, mengarahkan hidupnya serta bertanggung jawab terhadap pencapaian apapun yang akan diterima, sedangkan seseorang yang lebih dominan dengan eksternal locus of control, maka didalam dirinya akan memiliki keyakinan bahwa pengendali dari segala aspek di dalam kehidupannya dan apapun yang diterimanya adalah berasal dari kekuatan luar, berasal dari nasib seperti kemujuran/keberuntungan, dan peluang (Robbins, 2001).
c.       Vision
Mekanisme untuk mewujudkan peluang biasanya terlintas dalam pikiran wirausaha, dimana wirausaha membuat gagasan/cita-cita untuk dapat menembus peluang tersebut. Gagasan/cita-cita ini secara mendasar yang disebut sebagai visi (Shane, dkk, 2003). Visi membangkitkan motivasi melalui harapan hasil masa depan yang diinginkan (Leon, dkk, 2008).
d.      Desire Independence
Desire Independence adalah keinginan individu mendapatkan kebebasan. Banyak investigator yang telah melakukan observasi terhadap peran wirausaha yang membutuhkan kebebasan. Dari segi owner, banyak dari mereka yang menikmati menjadi bos dalam bisnisnya dikarenakan mereka menginginkan kebebasan untuk melakukan hal-hal sesuai dengan cara mereka (Kuratko dan Hornsby, 2009).
e.       Egoistic passion
Egoistic passion dapat diartikan sebagai keantusiasan, keegoisan dalam bekerja. Egois disini maksudnya adalah bersemangat/bergairah tinggi dalam bekerja, menyukai proses membangun organisasi dan menghasilkan keuntungan. Mereka termotivasi untuk melakukan apa yang benar-benar menjadi kepentingan mereka sendiri, yaitu untuk melakukan segala sesuatu yang diperlukan. 
f.       Drive
Drive pada dasarnya mengacu pada keinginan untuk berupaya, baik dalam berpikir serta membawa ide menjadi nyata. Ketika wirausaha mengejar peluang maka mereka akan melakukan tindakan untuk merealisasikannya menjadi nyata.
g.      Goal Setting
Teori penetapan sasaran (goal-setting) menyatakan bahwa semakin banyak tantangan dalam pencapaian sasaran yang mengarahkan pada kinerja yang lebih baik akan menghasilkan motivasi yang lebih, dalam memprediksi perilaku yang sesuai dan meningkatkan kemungkinan dalam pencapaian sasaran tersebut.

2.      Analisa Fim Berdasarkan Teori
Dalam film Top Secret: The Billionaire tergambar motivasi berwirausaha sang tokoh utama, Top Ittipat. Top Ittipat termotivasi untuk membuktikan pada orang tuanya bahwa dia bisa mandiri dan sukses seperti kakak-kakaknya, bukan dengan prestasi akademik tetapi dengan cara yang berbeda, yaitu dengan berwirausaha.Top Ittipat termotivasi untuk berwirausaha untuk memenuhi kebutuhannya karena keadaan keluarganya yang terlilit hutang hingga orang tuanya harus pindah ke Beijing.
Pada film ini, Top Ittipat ialah seorang remaja Thailand, mempunyai ambisi yang besar untuk menjadi pengusaha muda.Segala tantangan dihadapinya demi mewujudkan ambisinya itu, seakan-akan ingin menyiratkan bahwa remaja Asia, juga bisa seperti remaja Amerika, yang pantang menyerah. Menekankan bahwa remaja Asia tidak semuanya “pemalas” dan “lemah”, masih ada sosok seperti “Top Ittipat”. Dan kisah nyata dari film Top Secret: The Billionaire menjadi bukti otentik bahwa sebenarnya remaja Asia tidak kalah dengan remaja Barat. Action Top Ittipat terkesan mengabaikan pendidikan formalnya dan fokus hanya pada bisnisnya, sutradara ingin menekankan bahwa pendidikan formal itu tidaklah begitu penting, pengalaman hidup dan semangat pantang menyerah yang lebih penting untuk mencapai kesuksesan.
Beberapa scene menunjukkan Top adalah sosok yang pantang menyerah dan tidak mudah putus asa. Walaupun gagal menghabiskan berkardus-kardus rumput laut mentah, Top tetap mencoba hingga menemukan cara mengolah rumput laut yang benar. Dan tak putus asa menunggu Nn. Pu, direktur 7-eleven berjam-jam untuk mendaftarkan produknya ke manajemen 7-eleven.
Bila kita berpikir kita kaya, maka kita akan kaya. Bila kita berpikir kita sukses, maka kita akan sukses. Cara berfikir yang baik akanmemberikan kekuatan. Jadilah pribadi yang selalu berfikir positif dan optimis.


BAB III
PENUTUP
Tema utama dalam film “Top Secret: The Billionaire” ini adalah biografi dan ekonomi. Menceritakan biografi Top Ittipat, suka duka perjalanan bisnis seorang pengusaha muda hingga dapat mencapai kesuksesan.Film ini diselingi dengan kisah keluarga, menceritakan kasih sayang dan dukungan paman, ibu dan ayah terhadap apa yang dipilih Top.
Perjuangan Top, segala kegagalan, getir dan pahit serta rasa duka dalam membangun sebuah bisnis kini mengantar Top pada sebuah kesuksesan. Sekarang ini di Thailand siapa yang tak mengenal akan Tao Kae Noi produk cemilan rumput laut terlaris di Thailand bahkan telah masuk juga ke berbagai Negara tetangga termasuk Indonesia. Dengan penghasilan 800 juta Baht per tahun dan mempekerjakan 2.000 staf maka Top Ittipat yang bernama lengkap Top Aitthipat Kulapongvanich ini telah berhasil mencatatkan dirinya sebagai "A young billionaire from Thailand".


DAFTAR PUSTAKA
Rosmiati. junias, Donny teguh santosa & Munawar. (2015). Sikap, motivasi, dan minat berwirausaha mahasiswa . Jurnal manajemen dan kewirausahaan, vol.17, no. 1, maret 2015: 21–30  .
Siregar, E, Nara, H. (2010) . Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Ghalia Indonesia
Yunal ,Vivin Oblivia & Indriyani, Ratih. (2013). .Analisa pengaruh motivasi berwirausaha dan inovasi produk terhadap pertumbuhan usaha kerajinan gerabah di lombok barat. Jurnal AGORA Vol. 1, No. 1.